Google

Tuesday, 26 June 2007

Ragam Diet Sehat

Menerima kenyataan bahwa anak yang dilahirkan mengalami kelainan, bukan hanya fisik, tapi juga mental, seperti pada kasus anak autis, bukanlah persoalan mudah. Autisme, atau juga disebut dengan Autistic Spectrum Disorder (ASD), hingga kini belum diketahui secara pasti penyebabnya.

Sampai saat ini penelitian tentang faktor penyebab ASD masih terus berjalan. Beberapa studi menunjukkan bahwa anak yang mengalami autisme ternyata alergi terhadap makanan tertentu.

Dokter Sjawitri Siregar, Sp.A., dari Subbagian Alergi Imunologi Klinik, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI Jakarta, menyatakan bahwa makanan tertentu, terutama yang mengandung peptida, dapat memberikan efek toksik pada sistem saraf sentral. Karena memberi efek toksik, makanan jenis tersebut sangat tidak dianjurkan dikonsumsi oleh anak ASD. Itu sebabnya, intervensi diet penting diterapkan untuk anak ASD.

Pengalaman Dr. Rini Parmadji Susilo, Sp.JP., spesialis jantung dari Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta, dalam memberi diet kepada putranya, Dito, yang mengalami ASD, bisa menjadi bahan pertimbangan.

Dalam pemaparan pada Konferensi Nasional Autisme I, awal Juli lalu di Jakarta, Dr. Rini menerangkan pentingnya intervensi diet untuk anak ASD.
Menurutnya, intervensi diet tersebut dimaksudkan untuk menghilangkan gejala autisme, menghentikan atau menunda proses degeneratif yang sedang berlangsung, meningkatkan kualitas hidup, serta memberikan status nutrisi yang baik bagi penyandang ASD. Kemudian, selain melakukan terapi lain untuk ASD, Dr. Rini juga menerapkan terapi gizi bagi putranya.

Diet mulai diterapkan saat Dito berusia 17 bulan, dua minggu setelah didiagnosis ASD. Diet yang dijalankan meliputi:

Diet bebas gluten dan casein
Diet ini dimulai dengan menghindarkan semua produk yang mengandung gluten seperti biskuit, mi, roti dan makanan kemasan lain dari terigu. Casein biasanya diperoleh dari makanan atau minuman yang mengandung susu sapi, seperti keju, mozarella, butter, atau permen.

Diet bebas gula
Cara yang dilakukan adalah dengan membatasi asupan gula murni. Asupan ini terutama yang berasal dari gula pasir, sirup, minuman berkarbonasi, dan jus buah dalam kemasan. Sebagai gantinya, Dr. Rini menggunakan gula stevia dan xylitol secara bergantian.
Bila kedua jenis gula tersebut tidak tersedia, ia menggantinya dengan gula jagung atau sorbitol. Ia pernah mencoba gula buah (fruktosa), namun hasilnya tidak memuaskan. Gula palem masih dipergunakan, tapi dalam jumlah sangat sedikit. Gula tersebut biasanya digunakan dalam pembuatan kue.
Penggunaan aspartam, menurutnya, sangat tidak dianjurkan untuk penderita ASD.

Diet bebas jamur
Diet ini bertujuan untuk mencegah timbulnya kembali infeksi jamur dalam usus. Sesuai namanya, semua jenis makanan yang diolah dengan proses fermentasi seperti kecap, tauco, keju, serta kue yang dibuat dengan menggunakan soda pengembang, vermipan, atau sejenisnya, tidak diberikan. Begitu juga makanan yang sudah lama disimpan atau buah-buahan yang dikeringkan.

Diet bebas zat aditif
Zat aditif ini termasuk pewarna, penambah rasa (MSG atau monosodium glutamate), pengawet, pengemulsi, dan lain-lain. Makanan olahan seperti sosis, kornet, ayam nugget, sama sekali tidak diberikan kepada Dito.
Sebagai gantinya, untuk memberi warna pada makanan, digunakan pewarna alami seperti daun pandan, daun suji, kunyit, dan bit.

Diet bebas fenol dan salisilat
Fenol terkandung dalam buah-buahan berwarna cerah seperti anggur, ceri, prun, plum, apel, almond, dan lain-lain, sedangkan salisilat terdapat pada jeruk dan tomat. Warna cerah pada pepaya, mangga, bit, serta wortel bukanlah fenol, tapi betakaroten, sehingga aman dikonsumsi Dito.

Diet rotasi dan eliminasi
Dokter Rini menjalankan diet rotasi setelah melakukan tes sensitivitas makanan IgG. Makanan dengan hasil IgG tinggi (ditandai dengan tanda dua atau tiga bintang) akan dihilangkan, seperti terigu, susu sapi, dan brokoli. Untuk hasil IgG rendah (ditandai dengan tanda satu bintang) tetap diberikan dengan rotasi makan minimal empat hari.
Ia menyarankan agar orangtua membuat catatan harian terhadap makanan yang diasup penderita ASD setiap harinya dan efek yang ditimbulkannya.


Konsumsi makanan
Penderita ASD dianjurkan untuk minum air mineral kemasan atau air yang telah melalui penyaringan, minimal delapan gelas sehari. Berikan buah pepaya, kiwi, dan nanas untuk pencernaannya. Peralatan memasak dipilih dari bahan stainless steel atau kaca (pyrex).

Suplemen makanan
Anak ASD umumnya mengalami defisiensi vitamin dan mineral akibat perlakuan diet yang cukup ketat. Dengan demikian, dibutuhkan suplemen makanan seperti kalsium, magnesium, zinc, selenium, vitamin A, B6, C, E, asam lemak esensial, asam amino, kolostrum, enzim, probiotik, methylsulfonylmethane, ubiquinone, yeast control, biotin, taurin, dan reduced L-glutathione.

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa pemberian diet terhadap anak ASD bersifat individual. Diet yang diberikan Dr. Rini terhadap putranya, Dito, bisa tidak sama dengan diet terhadap anak lain yang juga mengalami ASD. Itu sebabnya, konsultasi terhadap dokter gizi serta dokter anak sangat diperlukan.

Jangan lupa untuk selalu membuat daftar makanan yang dikonsumsi oleh anak ASD dan efek yang ditimbulkannya.
http://www.kompas.com/kesehatan/news/senior/gizi/0308/01/gizi2.htm

No comments:

AddMe - Search Engine Optimization