Google

Tuesday, 26 June 2007

Diabetes, Ungkapan Gangguan Keseimbangan Bahan Bakar..!

Glukosa bersama asam lemak adalah molekul-molekul bahan bakar utama pemicu metabolisme makhluk hidup. Organ pengguna bahan bakar terbanyak adalah hati, otak, jantung, otot, dan jaringan adiposa.

Pemeliharaan kadar glukosa darah merupakan faktor amat penting, khususnya untuk menjaga fungsi sistem saraf. Kadar gula darah bervariasi, tergantung status nutrisi. Kadar gula normal manusia, beberapa jam setelah makan sekitar 80mg/ 100ml darah, tetapi sesaat sehabis makan meningkat sampai 120mg/100 ml.

Mekanisme homeostatik berperan untuk memasukkan glukosa ke dalam sel dan penggunaannya oleh jaringan tubuh. Bila kadar gula turun, mekanisme pelepasan gula simpanan glikogen dalam sel (atau dari glukoneogenesis) terbuka, sehingga kadar normal tetap terpelihara.

Mekanisme homeostatik melibatkan kerja hormon (lihat Tabel). Hormon-hormon utama pengendali metabolisme bahan bakar adalah insulin (untuk menurunkan gula darah) dan sebaliknya, glukagon dan epinefrin (untuk meningkatkan gula darah).

Insulin dan glukagon diproduksi di pankreas (berturut-turut di sel-sel beta dan alfa), sedangkan epinefrin dilepas dari medulla adrenal.

Menjaga keseimbangan

  • Peningkatan glukosa darah segera setelah makan menstimulasi sekresi insulin dan supresi glukagon. Hal itu bersamaan pula dengan pemasukan glukosa ke dalam hati, stimulasi sintesis glikogen, dan penghambatan degradasi glikogen.

Perubahan ini juga memicu produksi glukokinase (enzim pertama untuk membakar glukosa menjadi energi melalui proses glikolisis), penyediaan substrat- substrat untuk sintesis glikogen, dan pengaktifan asetil- CoA karboksilase (enzim untuk sintesis asam lemak di hati, kemudian asam lemak ditranspor ke jaringan adiposa dalam bentuk lemak). Sintesis glikogen serupa, juga terjadi di otot.

Beberapa jam kemudian, bila kadar glukosa turun, kejadian sebaliknya berlangsung. Sekresi insulin ditekan dan sekresi glukagon ditingkatkan.

Penurunan insulin mengurangi penggunaan gula oleh otot, hati, dan jaringan adiposa. Kejadian ini mempromosikan mobilisasi glikogen dalam hati melalui mekanisme kaskade yang mengaktifkan glikogen fosforilase (enzim pertama dalam tahapan degradasi glikogen) dan menonaktifkan glikogen sintase (enzim untuk sintesis glikogen). Degradasi lemak di adiposa juga teraktifkan.

Mekanisme pengaturan kadar gula di atas terjadi secara otomatis sehingga kadar gula darah konstan dan selalu tersedia untuk menjalankan fungsi otak. Semua ini dapat berlangsung atas kerja prima pankreas yang memproduksi enzim-enzim pencernaan dan hormon- hormon pengatur kadar gula darah (lihat Gambar).

Diabetes mellitus

  • Gangguan keseimbangan pasokan-kebutuhan bahan bakar glukosa sangat mengganggu metabolisme tubuh. Bila pasokan glukosa melebihi kebutuhan berdampak hiperglisemia (umum dikenal sebagai diabetes), dan sebaliknya menimbulkan hipoglisemia.

Diabetes mellitus terjadi akibat malfungsi insulin. Pada kondisi ini, walau jumlah glukosa berlebih, penggunaannya di dalam organ-organ tubuh atau jaringan sangat rendah. Artinya, penderita diabetes merasa kelaparan walau kelebihan gula darah, ibarat ’tikus mati di lumbung’.

Pada diabetes mellitus tipe I (tergantung insulin), pulau-pulau Langerhans hancur, mungkin akibat kelemahan genetis dan diikuti oleh destruksi otoimun yang dipicu oleh infeksi virus. Infiltrasi limfositik berat muncul di dalam dan di sekitar pulau-pulau Langerhans, sehingga jumlah dan ukurannya berkurang, dan mengakibatkan penurunan produksi insulin dan intoleran glukosa.

Pada diabetes mellitus tipe II (tak tergantung insulin), pulau-pulau Langerhans tampak normal. Namun, jumlahnya berkurang akibat fibrosis dan penumpukan polipeptida amilin. Akibatnya, produksi normal insulin terganggu.

Beberapa bentuk diabetes juga terjadi akibat mutasi gen yang menghasilkan struktur insulin tidak fungsional. Semua dapat diatasi dengan pemberian insulin dari luar. Namun, pada kasus diabetes ekstrem pemberian insulin tidak lagi bermanfaat. Kondisi terakhir disebut diabetes-resisten-insulin yang umumnya terjadi karena mutasi struktur reseptor insulin.

Kegagalan insulin bekerja secara normal dalam mempromosikan penggunaan glukosa, memaksa hati membongkar cadangan energi tubuh, misalnya melalui glukoneogenesis atau degradasi protein otot. Namun, glukosa yang diproduksi di hati ini tidak dapat digunakan kembali untuk sintesis asam amino atau asam lemak. Itu sebabnya, mengapa penderita diabetes kehilangan berat badan walau diet dengan kalori cukup.

Pada diabetes, cadangan energi lemak juga terkuras sebagai respons peningkatan glukagon. Peningkatan pembakaran asam lemak berdampak pada peningkatan kadar asam- asam organik (pembentukan badan-badan keton). Asam- asam ini menurunkan pH darah normal dari 7,4 menjadi 6,8 atau lebih rendah lagi. Kondisi ini memicu pembentukan aseton. Hal ini teramati dari bau napas pasien, dan mungkin membuat pasien pingsan. Komplikasi diabetes ketoasidosis membantu pertumbuhan Mucor. Ini tampak dari borok yang sulit disembuhkan. Karena itu, penderita diabetes harus menghindari luka.

Masalah metabolisme lain

  • Kelebihan konsentrasi glukosa dalam larutan tubuh membuat masalah metabolisme lain. Pada kadar 180 mg/100ml, ginjal tidak lagi mampu mengabsorbsi gula dari filtrat darah, sehingga gula tumpah melalui urin-kadang mencapai 100 gr per hari, sehingga disebut diabetes mellitus (secara harfiah berarti kencing manis).

Ekskresi gula juga menciptakan beban osmotik. Pada kondisi ini, ginjal juga tidak mampu mengabsorbsi kembali air. Oleh sebab itu, indikasi awal diabetes adalah urinasi berlebih diikuti dengan rasa haus berlebih.

Komplikasi diabetes dapat memicu kebutaan. Di sini, neovaskularisasi (pembentukan pembuluh darah baru) di mata berlangsung, yang mengakibatkan adesi antara iris dan kornea atau iris dan lensa. Neovaskularisasi iris mengakibatkan glaukoma sekunder, kebutaan.

Katarak merupakan kasus umum penderita diabetes. Kondisi hiperglisemia mengakibatkan akumulasi kristal sorbitol yang menutupi permukaan lensa mata. Komplikasi serius lain dari diabetes adalah penyakit jantung (myocardial infarction), penyakit pembuluh darah otak, dan penyakit ginjal.

Cara pengendalian diabetes mellitus agar tidak menimbulkan komplikasi serius adalah dengan diet terbatas karbohidrat diiringi suntikan insulin secara teratur. Berkat bantuan teknologi kloning, insulin manusia dapat diproduksi dalam sel E. coli sejak 1982. Tidak hanya itu, kelak sel-sel beta pankreas-penghasil insulin- rusak pun bisa diperbaiki dengan sel-sel tunas embrio.

Saat ini tak kurang 150 juta penderita diabetes tersebar di seluruh penjuru bumi. Saking banyaknya mereka mendirikan perkumpulan untuk tukar menukar informasi antarsesama penderita, penderita dan peneliti, atau antar peminat masalah diabetes. Di antaranya adalah asosiasi diabetes Amerika (http://www.diabetes.org) atau assosiasi diabetes Inggris (http://www.diabetes.org.uk).

http://www.kompas.com/kesehatan/news/0302/20/220453.htm

No comments:

AddMe - Search Engine Optimization